roteirando – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatat hasil positif pada kuartal IV-2025. Menurutnya, laju ekonomi nasional berpotensi tumbuh lebih tinggi dibanding capaian 5,12 persen pada kuartal II tahun ini.
Dalam acara CEO Insight di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Airlangga menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren membaik. Ia optimistis, hasil pengumuman data pertumbuhan kuartal III yang dijadwalkan pada 5 November 2025 akan mengonfirmasi arah pemulihan ekonomi yang berkelanjutan. “Di kuartal keempat saya yakin pertumbuhannya lebih tinggi dari 5,12 persen,” ujar Airlangga, Selasa (4/11/2025).
Ia menambahkan, kebijakan pemerintah yang memperkuat sektor industri dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan. Selain itu, stabilitas harga pangan dan energi turut menjaga daya beli masyarakat. Airlangga menilai, tambahan likuiditas sekitar Rp200 triliun ke perbankan pelat merah juga akan memberi dampak positif dalam jangka menengah, terutama terhadap pertumbuhan kredit.
Sementara itu, Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 5 persen pada kuartal III-2025. Menurut Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, konsumsi masyarakat mulai membaik meski belum menunjukkan lonjakan signifikan. “Yang kita lihat saat ini adalah stabilisasi, bukan lonjakan. Namun fondasinya tetap kokoh,” ujarnya.
Dengan tren konsumsi yang menguat dan investasi yang solid, prospek ekonomi Indonesia diperkirakan tetap cerah hingga akhir 2025. Pemerintah menargetkan pertumbuhan dapat dipertahankan di atas 5 persen secara konsisten sebagai dasar menuju percepatan ekonomi 2026.
Baca Juga: “Passive Income dari Investasi Properti: Hunian Strategis“
Dorongan Konsumsi dan Investasi Jaga Pertumbuhan Ekonomi Jelang Akhir 2025
Pertumbuhan ekonomi nasional pada akhir 2025 diperkirakan tetap solid berkat dukungan konsumsi dan investasi yang terus meningkat. Data menunjukkan penjualan ritel tumbuh 5,8 persen secara tahunan pada September 2025, menjadi laju tertinggi sejak awal tahun. Namun, inflasi inti yang hanya 2,2 persen menandakan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Kepercayaan konsumen masih tertekan oleh ketimpangan pendapatan dan kenaikan biaya hidup. Meski begitu, pelonggaran kebijakan moneter mulai memberikan dampak positif. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak September 2024, mendorong pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) hingga 8 persen pada September 2025. Dampaknya mulai terasa pada sektor kredit dan konsumsi, meskipun secara bertahap.
Dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah baru mencapai 59,7 persen dari target tahunan, lebih rendah dibanding 64,7 persen pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan dorongan fiskal pada kuartal III masih terbatas, tetapi membuka peluang percepatan belanja di kuartal IV saat kementerian dan lembaga meningkatkan penyerapan anggaran.
Investasi juga menjadi penopang utama pertumbuhan, meski sedikit melambat. Data BKPM menunjukkan realisasi investasi tumbuh 13,9 persen secara tahunan pada kuartal III 2025, terutama di sektor pusat data, logistik, dan infrastruktur digital.
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, menilai momentum investasi masih positif. “Tahap selanjutnya perlu fokus pada revitalisasi sektor industri agar daya saing jangka panjang tetap terjaga,” ujarnya. Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang sinkron, prospek ekonomi Indonesia hingga akhir tahun masih berada di jalur stabil.
Baca Juga: “ChatGPT Picu Kekhawatiran, OpenAI Ungkap Risiko Psikosis“




Leave a Reply