Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Sektor Ekspor Diuntungkan

Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Sektor Ekspor Diuntungkan

roteirando– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan mendatang. Pelemahan ini terjadi meskipun terdapat sejumlah sentimen positif di pasar global maupun domestik.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 16.720 hingga Rp 16.870 per dolar AS. Menurutnya, tekanan eksternal seperti kebijakan moneter Amerika dan ketidakpastian global masih dominan memengaruhi pergerakan rupiah.

“Untuk rupiah kemungkinan besar di perdagangan besok masih akan melemah, ada kemungkinan besar di Rp 16.720 sampai Rp 16.870,” jelas Ibrahim dalam keterangannya, Rabu, 24 September 2025.

Data IMF terbaru yang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia belum cukup kuat menopang nilai rupiah. Investor masih berhati-hati menghadapi perbedaan kebijakan suku bunga antara Bank Indonesia dan The Federal Reserve. Kondisi ini memicu arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.

Selain itu, harga komoditas global yang berfluktuasi turut menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar. Sektor impor berpotensi terbebani karena biaya dolar yang lebih tinggi. Sebaliknya, sektor ekspor berpeluang mendapatkan keuntungan karena penerimaan dalam dolar meningkat.

Ke depan, pelaku pasar menunggu arah kebijakan Bank Indonesia terkait intervensi pasar dan pengendalian inflasi. Jika stabilitas domestik terjaga, rupiah berpeluang meredam pelemahan lebih dalam. Namun, dalam jangka pendek, tekanan eksternal diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang membayangi.

Baca Juga : “Prabowo Ulang Sejarah Diplomasi Prof Sumitro di Sidang PBB

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap IHSG dan Sektor Pasar Saham

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menimbulkan tekanan pada pasar modal Indonesia. Kondisi global dan domestik yang belum stabil membuat rupiah sulit menguat signifikan, sehingga menambah kekhawatiran investor.

Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak negatif bagi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, tekanan inflasi dan potensi keluarnya investor asing dapat meningkatkan risiko koreksi pasar saham. “Pelemahan rupiah merupakan sentimen negatif bagi IHSG. Investor asing cenderung keluar, inflasi meningkat. Biasanya bursa saham akan tertekan, koreksi jangka pendek sangat mungkin terjadi,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Kamis, 25 September 2025.

Sektor yang dinilai rentan terhadap pelemahan rupiah mencakup perbankan, konsumer, ritel, otomotif, dan penerbangan. Perbankan menghadapi risiko kredit valas yang lebih tinggi, sementara konsumer dan ritel tertekan margin akibat kenaikan harga barang impor. Sektor otomotif juga terdampak karena biaya impor komponen naik, sedangkan penerbangan menghadapi lonjakan biaya operasional dari bahan bakar hingga suku cadang.

Namun, tidak semua sektor merugi akibat kondisi ini. Reydi menambahkan, sektor komoditas, energi, manufaktur ekspor, dan logistik justru berpotensi diuntungkan. Hal ini karena pendapatan dalam dolar meningkat ketika rupiah melemah, sehingga kinerja ekspor bisa terdorong positif.

Ke depan, arah pergerakan IHSG akan dipengaruhi respons investor terhadap kebijakan moneter global serta upaya pemerintah menjaga stabilitas domestik. Jika ketidakpastian global berlanjut, pasar saham diperkirakan tetap menghadapi volatilitas tinggi, namun sektor berbasis ekspor bisa menjadi penopang utama.

Baca Juga : “Polisi Peru Tangkap Komplotan Pembunuh Zetro Purba“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *