roteirando – Dalam langkah besar menuju energi bersih, ilmuwan China berhasil menciptakan sel surya perovskit tanpa timbal yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini dikembangkan oleh tim dari Universitas Fudan dan menandingi performa sel surya berbasis timbal konvensional.
Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Nature pada Rabu (15/10/2025). Hasilnya menunjukkan bahwa sel surya baru ini mampu mencapai efisiensi konversi daya 17,7 persen. Angka itu menjadi rekor tertinggi untuk jenis sel surya berbasis timah hingga saat ini. Temuan ini menandai kemajuan besar dalam teknologi fotovoltaik perovskit, yang selama ini dikenal efisien dan murah, tetapi berisiko karena mengandung bahan beracun.
Biasanya, sel surya perovskit menggunakan timbal yang dapat mencemari lingkungan. Karena itu, para peneliti berupaya menggantinya dengan timah yang lebih aman. Dengan cara ini, mereka ingin menciptakan alternatif hijau yang berkelanjutan dan layak digunakan secara massal.
Menurut Liang Jia, penulis korespondensi studi tersebut, tujuan utama timnya adalah menciptakan teknologi energi yang benar-benar ramah lingkungan sepanjang siklus hidupnya. Ia menegaskan, penelitian ini menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak ekologis dari produksi energi surya.
Selain itu, bahan perovskit sendiri dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap cahaya. Karena efisiensinya, material ini sangat potensial untuk mendukung energi terbarukan masa depan. Jika berhasil diterapkan dalam industri, teknologi ini bisa menurunkan biaya produksi panel surya global.
Dengan demikian, terobosan dari ilmuwan China ini menunjukkan bahwa inovasi energi hijau Asia semakin memimpin dalam upaya global menuju masa depan rendah emisi.
Baca Juga: “Rutinitas Mandi Air Hangat Atau Air Dingin yang Baik untuk Jantung“
Timah Jadi Solusi Efisien untuk Sel Surya Ramah Lingkungan
Timah kini dianggap sebagai solusi ideal untuk menggantikan timbal dalam teknologi sel surya perovskit. Unsur ini melimpah di alam, aman bagi lingkungan, serta mudah diproduksi dalam skala besar. Karena sifatnya yang stabil dan kompatibel dengan konversi energi surya, timah berpotensi menjadi bahan utama generasi baru panel surya hijau.
Namun, pada tahap awal, sel surya berbasis timah menghadapi tantangan teknis. Ion timah mudah teroksidasi, dan antarmuka antarlapisannya kurang stabil. Akibatnya, efisiensi konversi energi sulit melampaui 10 persen. Untuk mengatasi kendala ini, tim riset yang dipimpin oleh Liang Jia dari Universitas Fudan melakukan pendekatan baru.
Mereka merancang ulang antarmuka tersembunyi (buried interface) dengan menambahkan film molekuler khusus. Lapisan ini menciptakan antarmuka homogen dengan penyelarasan tingkat energi yang lebih baik. Hasilnya, terbentuk lapisan bawah superwetting yang memandu pertumbuhan film perovskit berbasis timah secara merata. Pendekatan tersebut menghasilkan material dengan kepadatan cacat lebih rendah, yang meningkatkan efisiensi dan kestabilan .
Menurut Liang, biaya produksi sel surya timah juga jauh lebih rendah dibanding berbasis silikon. Hal ini menjadikan teknologi ini lebih kompetitif dan berpotensi mendukung produksi massal. Ia menambahkan, “Teknologi ini sangat cocok untuk aplikasi energi yang melibatkan kontak dekat dengan manusia.”
Ke depannya, sel surya berbasis timah diharapkan dapat diterapkan secara luas pada fotovoltaik terintegrasi bangunan, perangkat wearable, atap kendaraan, dan sistem tenaga luar jaringan. Dengan efisiensi tinggi dan keamanan lebih baik, inovasi ini menandai langkah penting menuju masa depan energi bersih yang berkelanjutan.
Baca juga : “BPOM Ingatkan 7 Jenis Obat yang Sering Disalahgunakan”




Leave a Reply