roteirando – Kabar duka datang dari keluarga penyanyi solo Raisa. Sang Ibunda Raisa, Ria Mariaty, meninggal dunia pada Sabtu, 29 November 2025, pukul 07.19 WIB.
Beberapa bulan terakhir, Ria Mariaty menjalani perawatan intensif akibat kanker paru yang dideritanya. Pada Desember 2024, keluarga Raisa menerima kabar mengejutkan bahwa Ria didiagnosis kanker paru stadium 4. Penyebaran sel kanker juga telah mencapai beberapa tulang, memperparah kondisi kesehatan beliau.
Kakak Raisa, Rinaldi Nurpratama, membagikan kabar ini melalui unggahan Instagram pribadi. Ia menjelaskan bahwa penyakit sang ibu bermula dari batuk yang berlangsung lebih dari sebulan pada Oktober 2024. Awalnya, Ria didiagnosis tuberkulosis dan dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Namun, setelah pulang, ia mengalami mual, muntah, dan pusing akibat efek obat TBC.
Pada perawatan kedua, dokter melakukan pemeriksaan PET scan untuk memastikan kondisi lebih mendalam. Hasil menunjukkan kanker paru stadium 4 yang telah menyebar ke tulang. Menurut Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Kementerian Kesehatan, kanker paru termasuk jenis kanker yang umum dan berisiko tinggi pada perokok aktif maupun pasif, serta pekerja yang terpapar bahan berbahaya seperti asbes, arsen, dan nikel.
Kanker paru terjadi karena pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali dalam jaringan paru, membentuk tumor yang mengganggu fungsi organ. Gejala sering muncul pada tahap lanjut, seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan berat badan, sebagaimana dikutip dari Mayo Clinic.
Kepergian Ria Mariaty meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan penggemar Raisa. Keluarga berharap masyarakat dapat memahami pentingnya deteksi dini kanker paru dan meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan pernapasan.
Baca Juga: “Badan Anti Korupsi Hong Kong Tangkap 8 Terkait Kebakaran“
Memahami Jenis dan Stadium Kanker Paru: Pelajaran dari Kasus Ibunda Raisa
Kanker paru termasuk penyakit serius yang sering baru terdeteksi pada stadium lanjut. Ibunda Raisa, Ria Mariaty, meninggal dunia karena kanker paru stadium IV.
Menurut Cleveland Clinic, kanker paru terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu non-small cell lung cancer (NSCLC) dan small cell lung cancer (SCLC). NSCLC adalah yang paling umum, mencakup lebih dari 80 persen kasus, termasuk adenokarsinoma dan squamous cell carcinoma. SCLC tumbuh lebih cepat dan sulit diobati karena biasanya sudah menyebar saat ditemukan.
Kanker paru juga diklasifikasikan berdasarkan stadium, mulai dari 0 hingga IV. Pada stadium IV, seperti yang dialami Ria Mariaty, sel kanker sudah menyebar ke paru lain, cairan sekitar paru atau jantung, maupun ke organ jauh seperti tulang.
Pilihan pengobatan tergantung jenis dan stadium kanker. Terapi dapat berupa operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi. Efek samping pengobatan meliputi mual, kelelahan, rambut rontok, dan gangguan pernapasan. Selain itu, perawatan paliatif penting untuk mengurangi rasa sakit dan stres, sehingga pasien dapat menjalani hari-harinya lebih nyaman, menurut Get Palliative Care.
Kisah Ria Mariaty mengingatkan masyarakat bahwa kanker paru bisa menyerang siapa saja, bahkan tanpa gejala awal jelas. Batuk ringan yang berlangsung lebih dari tiga minggu sebaiknya tidak diabaikan. Deteksi dini dan pemeriksaan rutin meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar kesempatan pasien menjalani hidup dengan kualitas lebih baik.
Kasus ini juga menegaskan pentingnya kesadaran terhadap faktor risiko, termasuk paparan asap rokok dan zat berbahaya di lingkungan kerja. Pendidikan kesehatan dan skrining berkala menjadi kunci untuk menurunkan angka kematian akibat kanker paru.
Baca Juga: “BBNKB Jakarta: Manfaat dan Dampak Positif bagi Warga“




Leave a Reply