roteirando.com – Psikolog klinis Kasandra Putranto menjelaskan karakteristik dan pola pendekatan pelaku child grooming, sebagai langkah penting melindungi anak dari pelecehan seksual. Proses grooming adalah manipulasi sistematis yang bertujuan menjadikan anak korban pelecehan, sehingga mengenali ciri pelaku sejak awal sangat krusial.
Karakteristik Pelaku Child Grooming
Menurut Kasandra, pelaku grooming kerap sangat terampil dalam manipulasi emosional. Mereka mampu membangun kepercayaan dan hubungan kuat dengan anak maupun orang dewasa di sekitarnya. “Pelaku menunjukkan empati berlebihan, perhatian yang tampak tulus, dan kemampuan sosial baik, sehingga mudah bergaul,” ujar Kasandra, Rabu.
Pelaku child grooming biasanya menyembunyikan niat jahat mereka. Beberapa memiliki riwayat perilaku menyimpang atau pelecehan di masa lalu. Pihak yang berpotensi menjadi pelaku meliputi orang dewasa yang dikenal anak, termasuk anggota keluarga, teman keluarga, guru, pelatih, hingga profesional yang bekerja dengan anak seperti konselor atau pekerja sosial. Selain itu, pelaku juga bisa orang asing yang berinteraksi secara langsung atau online melalui media sosial, aplikasi pesan, atau platform game. Kasandra menambahkan, remaja atau anak yang lebih tua juga dapat menjadi pelaku terhadap anak yang lebih muda.
Baca juga: “Penyelidikan teror DJ Donny, polisi periksa 12 saksi”
Pola Pendekatan Pelaku
Pelaku child grooming biasanya memulai dengan membangun kepercayaan dan ikatan emosional kuat. Mereka memberi perhatian berlebihan, pujian, dan hadiah untuk membuat anak merasa istimewa. Teknik manipulasi, seperti gaslighting, sering digunakan agar korban bingung dan meragukan diri sendiri, sehingga lebih mudah dikendalikan. Pelaku juga berusaha mengisolasi korban dari teman dan keluarga untuk memperkuat pengaruhnya.
Kasandra menjelaskan, proses grooming bisa berlangsung dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun, tergantung strategi pelaku dan kecepatan membangun kepercayaan. “Pelaku berpengalaman atau yang memanfaatkan media online bisa mempercepat proses grooming karena akses lebih mudah dan anonim,” ujarnya.
Faktor korban juga memengaruhi durasi. Anak yang rentan atau memiliki masalah emosional lebih cepat terpengaruh. Sebaliknya, anak dengan dukungan sosial kuat cenderung lebih resisten. Jika anak menunjukkan ketidaknyamanan atau menolak pendekatan pelaku, proses grooming dapat terhenti lebih cepat.
Dampak dan Pencegahan
Proses grooming tidak selalu terlihat kasat mata. Anak sering merasa hubungan tersebut normal atau istimewa, sehingga orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku. “Keluarga dan guru harus aktif memantau interaksi anak, baik di dunia nyata maupun daring, untuk mencegah grooming berkembang,” kata Kasandra.
Pencegahan juga dapat dilakukan melalui edukasi sejak dini, mengenalkan anak pada batasan tubuh, dan komunikasi terbuka mengenai risiko interaksi dengan orang dewasa atau remaja yang belum dikenal. Media sosial dan platform game harus diawasi untuk mencegah akses anak kepada pelaku grooming online.
Kasandra menegaskan, mengenali karakteristik dan pola pelaku grooming adalah langkah awal melindungi anak. Dukungan keluarga, pengawasan lingkungan, dan edukasi anak menjadi faktor penting mencegah proses grooming berkembang menjadi pelecehan. Masyarakat juga perlu memahami bahwa child grooming dapat dilakukan oleh orang terdekat maupun orang asing, sehingga kewaspadaan tidak hanya terbatas pada interaksi online.
“Kesadaran kolektif tentang child grooming harus terus ditingkatkan, agar anak dapat tumbuh dalam lingkungan aman dan sehat,” tutup Kasandra.
Baca juga: “”Broken Strings”, Keberanian Penyintas Memutus Rantai ”Child Grooming””




Leave a Reply