roteirando – Ilmuwan AS Kembangkan AI Teknologi kecerdasan buatan di Amerika Serikat berkembang cepat dengan inovasi yang mampu menafsirkan pikiran manusia. Sistem ini dirancang untuk membantu pasien berkebutuhan khusus, terutama penyintas stroke yang kesulitan berbicara.
AI tersebut menggunakan pemindaian MRI non-invasif untuk membaca pola saraf saat seseorang melihat rangsangan visual. Proses ini kemudian diterjemahkan menjadi kalimat yang akurat dan mudah dipahami. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dan menjadi sorotan berbagai media internasional.
Teknik yang disebut sebagai “mind captioning” bekerja ketika partisipan menonton video pendek di dalam mesin MRI. Sistem AI menangkap aktivitas otak lalu membangun deskripsi visual berdasarkan pola yang muncul. Misalnya, saat relawan melihat seseorang melompat dari air terjun, AI mampu menghasilkan kalimat yang menggambarkan adegan tersebut dengan tepat.
Ahli saraf komputasional dari University of California, Berkeley, Alex Huth, menyatakan bahwa komputer dapat memprediksi apa yang dilihat seseorang dengan sangat jelas. Ia menilai teknologi ini dapat menjadi dasar bagi sistem komunikasi baru yang lebih manusiawi. Penelitian ini juga memperlihatkan potensi besar untuk diterapkan pada terapi rehabilitasi.
Riset terkait pembacaan aktivitas otak terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Beberapa laboratorium di Amerika juga mengembangkan model serupa untuk mendukung pasien dengan gangguan saraf. Meski menjanjikan, para peneliti menekankan pentingnya regulasi dan etika dalam penggunaan teknologi tersebut.
Inovasi ini membuka arah baru bagi pengembangan AI di bidang medis dan neurosains. Para ilmuwan memprediksi fitur serupa dapat membantu pasien berbicara kembali tanpa alat invasif dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga : “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Membaik pada 2026“
Ilmuwan AS Kembangkan AI Pembaca Pikiran Ungkap Kemampuan Mengingat Melalui Aktivitas Otak
Sistem AI pembaca pikiran menunjukkan kemampuan baru saat partisipan mencoba mengingat video yang pernah mereka lihat. Teknologi ini dapat menghasilkan deskripsi yang sesuai dengan ingatan otak mereka tanpa prosedur invasif.
Dalam uji coba terhadap enam sukarelawan, peneliti mencatat tingkat akurasi yang dianggap sangat mengejutkan. Hasil ini lebih baik dibanding studi sebelumnya yang hanya mampu menghasilkan kata terpisah tanpa konteks jelas. Peningkatan tersebut menandai kemajuan besar dalam riset decoding aktivitas saraf.
AI bekerja dengan membaca pola saraf yang muncul saat peserta memutar kembali ingatan visual mereka. Pola itu kemudian dipetakan ke dalam kalimat yang menggambarkan detail adegan secara runtut. Temuan ini memperlihatkan bahwa memori visual dapat diterjemahkan menjadi bahasa alami menggunakan model saraf canggih.
Para peneliti menilai kemampuan ini berpotensi membantu pasien dengan cedera otak atau gangguan bicara yang kehilangan akses terhadap ekspresi verbal. Mereka juga menekankan perlunya standar etika dalam penelitian lanjutan. Risiko penyalahgunaan menjadi perhatian utama karena sistem dapat membuka akses terhadap ingatan pribadi dan data emosional seseorang.
Beberapa ahli neurosains membandingkan pencapaian ini dengan perkembangan teknologi brain–computer interface dalam satu dekade terakhir. Mereka menilai pendekatan non-invasif lebih aman dan memiliki peluang aplikasi yang lebih luas. Namun, pengawasan ketat tetap diperlukan untuk mencegah pelanggaran privasi.
Peneliti memprediksi bahwa teknologi ini dapat mendukung terapi komunikasi berbasis otak dalam beberapa tahun mendatang. Dengan regulasi tepat, AI pembaca pikiran berpotensi menjadi alat medis penting yang membantu banyak pasien.
Baca Juga : “Apindo Ungkap Kenaikan Biaya Usaha di Indonesia“




Leave a Reply