roteirando.com – Seekor beruang madu jantan bernama Azim kembali dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Tarak, Kalimantan Barat, setelah menjalani proses penyelamatan dan rehabilitasi intensif. Azim sebelumnya terjerat oleh pemburu, yang menyebabkan kondisi fisiknya memburuk. Pelepasliaran dilakukan oleh tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada Selasa, 10 Maret 2026.
Direktur Operasional dan Program YIARI, Argitoe Ranting, menjelaskan bahwa Azim pertama kali terdeteksi melalui kamera jebak pada November 2024. Rekaman menunjukkan beruang tersebut mengalami jeratan di kaki depan kanan sehingga tampak pincang. “Azim dilepaskan setelah melalui perawatan dan rehabilitasi intensif akibat jeratan pemburu,” kata Argitoe di Pontianak, Kamis.
Proses Penyelamatan dan Rehabilitasi yang Panjang
Proses penyelamatan Azim memakan waktu lebih dari tujuh bulan. Tim konservasi melakukan berbagai upaya untuk melacak keberadaannya di hutan hingga berhasil menangkap beruang tersebut dengan kandang jebak pada 27 Juni 2025.
Setelah diamankan, tim medis YIARI bersama petugas BKSDA langsung melakukan pemeriksaan kesehatan. Dokter hewan Ishma Maula mengatakan kondisi Azim saat ditemukan sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mengalami infeksi serius akibat luka jerat, yang jika tidak segera ditangani, berisiko menyebabkan kematian.
Selama berada di klinik rehabilitasi YIARI, Azim menerima perawatan intensif selama berbulan-bulan. Pemeriksaan rontgen menunjukkan tulang kaki yang terkena jerat mengalami deformasi, dan beberapa jari terpaksa diamputasi untuk menyelamatkan kondisinya. Meski kakinya tidak pulih sepenuhnya, Azim menunjukkan perbaikan kondisi fisik secara signifikan sehingga dinilai siap kembali ke habitat alaminya.
Pentingnya Kerja Sama dalam Upaya Konservasi
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa pelepasliaran Azim menjadi pengingat penting bagi perlindungan satwa liar dan habitat. “Ini bukan sekadar penyelamatan individu satwa, tetapi juga pengingat pentingnya perlindungan habitat dan pencegahan ancaman bagi satwa liar,” ujar Silverius.
Pelaksana Tugas Kepala KPH Ketapang Selatan, Nursiah, menilai kasus Azim menunjukkan bahwa jerat pemburu masih menjadi ancaman serius bagi berbagai satwa, termasuk yang dilindungi. Keberhasilan penyelamatan Azim membuktikan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam konservasi, termasuk patroli rutin, pemantauan keanekaragaman hayati, pengawasan aktivitas ilegal, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Nilai Ekologis Hutan Gunung Tarak dan Perlindungan Habitat
Hutan Gunung Tarak memiliki nilai ekologis tinggi, menjadi rumah bagi berbagai spesies satwa liar dan tumbuhan endemik. Keberadaan beruang madu seperti Azim menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan.
Nursiah menambahkan, “Pelepasliaran Azim adalah simbol keberhasilan konservasi, menegaskan bahwa upaya melindungi satwa liar dan habitatnya harus berkelanjutan.” Tim konservasi juga menekankan pentingnya monitoring jangka panjang untuk memastikan Azim beradaptasi dengan baik di alam liar, termasuk menghindari potensi konflik dengan manusia atau ancaman baru.
Dampak Konservasi dan Pesan untuk Masa Depan
Kembalinya Azim ke hutan menjadi momen penting bagi upaya konservasi di Kalimantan Barat. Kisahnya mengingatkan bahwa menjaga kelestarian alam bukan hanya melindungi satwa, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem bagi kehidupan manusia dan flora-fauna di masa depan.
Pelepasliaran Azim juga meningkatkan kesadaran publik mengenai ancaman nyata bagi satwa liar, seperti perburuan dan perdagangan ilegal. Keberhasilan rehabilitasi ini menunjukkan bahwa intervensi cepat, perawatan medis, dan kolaborasi antar lembaga dapat menyelamatkan satwa yang terancam punah.
Dengan keberhasilan ini, tim konservasi berharap masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, memahami pentingnya perlindungan habitat, dan mendukung kebijakan konservasi yang berkelanjutan, sehingga kasus seperti jeratan pemburu dapat diminimalkan di masa depan.
Kisah Azim menegaskan bahwa setiap individu satwa yang selamat memiliki nilai penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati di Indonesia.




Leave a Reply